manusia dan cinta kasih

CINTA MENURUT AL QURAN
border=0 v:shapes=”_x0000_s1026″>Menurut hadis Nabi, orang yang sedang jatuh cinta cenderung selalu mengingat dan menyebut orang yang dicintainya (man ahabba syai’an katsura dzikruhu), kata Nabi, orang juga bisa diperbudak oleh cintanya (man ahabba syai’an fa huwa `abduhu). 

Kata Nabi juga, ciri dari cinta sejati ada tiga :
(1) lebih suka berbicara dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain,
(2) lebih suka berkumpul dengan yang dicintai dibanding dengan yang lain, dan
(3) lebih suka mengikuti kemauan yang dicintai dibanding kemauan orang lain/diri sendiri. Bagi orang yang telah jatuh cinta kepada Alloh SWT, maka ia lebih suka berbicara dengan Alloh Swt, dengan membaca firman Nya, lebih suka bercengkerama dengan Alloh SWT dalam I`tikaf, dan lebih suka mengikuti perintah Alloh SWT daripada perintah yang lain.

Dalam Qur’an cinta memiliki 8 pengertian berikut ini penjelasannya:
1. Cinta mawaddah adalah jenis cinta mengebu-gebu, membara dan
“nggemesi”. Orang yang memiliki cinta jenis mawaddah, maunya selalu
berdua, enggan berpisah dan selalu ingin memuaskan dahaga cintanya. Ia ingin memonopoli cintanya, dan hampir tak bisa berfikir lain.

2. Cinta rahmah adalah jenis cinta yang penuh kasih sayang, lembut,
siap berkorban, dan siap melindungi. Orang yang memiliki cinta jenis
rahmah ini lebih memperhatikan orang yang dicintainya dibanding
terhadap diri sendiri. Baginya yang penting adalah kebahagiaan sang
kekasih meski untuk itu ia harus menderita. Ia sangat memaklumi
kekurangan kekasihnya dan selalu memaafkan kesalahan kekasihnya.
Termasuk dalam cinta rahmah adalah cinta antar orang yang bertalian
darah, terutama cinta orang tua terhadap anaknya, dan sebaliknya. Dari itu maka dalam al Qur’an , kerabat disebut al arham, dzawi al arham, yakni orang-orang yang memiliki hubungan kasih sayang secara fitri, yang berasal dari garba kasih sayang ibu, disebut rahim (dari kata
rahmah). Sejak janin seorang anak sudah diliputi oleh suasana
psikologis kasih sayang dalam satu ruang yang disebut rahim.

Selanjutnya diantara orang-orang yang memiliki hubungan darah
dianjurkan untuk selalu ber silaturrahim, atau silaturrahmi artinya
menyambung tali kasih sayang. Suami isteri yang diikat oleh cinta
mawaddah dan rahmah sekaligus biasanya saling setia lahir batin-dunia
akhirat.

3. Cinta mail, adalah jenis cinta yang untuk sementara sangat membara, sehingga menyedot seluruh perhatian hingga hal-hal lain cenderung kurang diperhatikan. Cinta jenis mail ini dalam al Qur’an disebut dalam konteks orang poligami dimana ketika sedang jatuh cinta kepada yang muda (an tamilu kulla al mail), cenderung mengabaikan kepada yang lama.

4. Cinta syaghaf. Adalah cinta yang sangat mendalam, alami, orisinil
dan memabukkan. Orang yang terserang cinta jenis syaghaf (qad
syaghafaha hubba) bisa seperti orang gila, lupa diri dan hampir-hampir
tak menyadari apa yang dilakukan. Al Qur’an menggunakan term syaghaf ketika mengkisahkan bagaimana cintanya Zulaikha, istri pembesar Mesir kepada bujangnya, Yusuf.

5. Cinta ra’fah, yaitu rasa kasih yang dalam hingga mengalahkan
norma-norma kebenaran, misalnya kasihan kepada anak sehingga tidak
tega membangunkannya untuk salat, membelanya meskipun salah. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengingatkan agar janganlah cinta ra`fah menyebabkan orang tidak menegakkan hukum Allah, dalam hal ini kasus hukuman bagi pezina (Q/24:2).

6. Cinta shobwah, yaitu cinta buta, cinta yang mendorong perilaku penyimpang tanpa sanggup mengelak. Al Qur’an menyebut term ini ketika mengkisahkan bagaimana Nabi Yusuf berdoa agar dipisahkan dengan Zulaiha yang setiap hari menggodanya (mohon dimasukkan penjara saja), sebab jika tidak, lama kelamaan Yusuf tergelincir juga dalam perbuatan bodoh, wa illa tashrif `anni kaidahunna ashbu ilaihinna wa akun min al jahilin (Q/12:33)

7. Cinta syauq (rindu). Term ini bukan dari al Qur’an tetapi dari hadis yang menafsirkan al Qur’an. Dalam surat al `Ankabut ayat 5 dikatakan bahwa barangsiapa rindu berjumpa Allah pasti waktunya akan tiba. Kalimat kerinduan ini kemudian diungkapkan dalam doa ma’tsur dari hadis riwayat Ahmad; wa as’aluka ladzzata an nadzori ila wajhika wa as syauqa ila liqa’ika, aku mohon dapat merasakan nikmatnya memandang wajah Mu dan nikmatnya kerinduan untuk berjumpa dengan Mu.

Menurut Ibn al Qayyim al Jauzi dalam kitab Raudlat al Muhibbin wa Nuzhat al Musytaqin, Syauq (rindu) adalah pengembaraan hati kepada sang kekasih (safar al qalb ila al mahbub), dan kobaran cinta yang apinya berada di dalam hati sang pecinta, hurqat al mahabbah wa il tihab naruha fi qalb al muhibbi

8. Cinta kulfah. yakni perasaan cinta yang disertai kesadaran mendidik kepada hal-hal yang positip meski sulit, seperti orang tua yang menyuruh anaknya menyapu, membersihkan kamar sendiri, meski ada pembantu. Jenis cinta ini disebut al Qur’an ketika menyatakan bahwa Allah tidak membebani seseorang kecuali sesuai dengan kemampuannya, la yukallifullah nafsan illa wus`aha (Q/2:286)

Sumber : http://www.kompas.com

 

http://www.ryocyber.com/index.php?option=com_content&view=article&id=565:cinta-menurut-al-quran&catid=45:e-dakwah&Itemid=69

3. Unsur cinta

  1. komitmen

komitmen dalam percintaan sangatlah penting. Ini menyangkut tentang kesetiaan. Suatu hubungan tidak akan berjalan dengan baik jika tidak adanya kesetiaan.

  1. nafsu

setiap manusia pasti memiliki hasrat/nafsu untuk mencintai atau dicintai. Namun hasrat/nafsu yang berlebihan malah membuat manusia itu hilang akal pikiran hingga tidak terkendali. Rasulullah SAW mengatakan bahwa perang yang paling sulit adalah perang melawan hawa nafsu. Maka dari itu, setiap manusia harus bias menahan diri dengan mendekatkan diri kepada Allah SWT.

  1. keintiman/kedekatan hubungan

jika keintiman/kedekatan hubungan terjaga dengan baik, maka hubungan tersebut tidak akan mudah terpecah. Setiap manusia, menginginkan setiap saat lebih dekat lagi kepada pasangannya. Namun manusia lupa, bahwa seharusnya, manusia lebih menginginkan kedekatan hubungan kepada Allah SWT dibandingkan kepada hal duniawi. Karena jika manusia kesusahan, atau membutuhkan sesuatau, maka tidak ada tempat meminta selain Allah SWT. Dan bukankah apabila dekat dengan-Nya maka permintaan kita dikabulkan akan sebih besar kemungkinannya ?

http://forum.detik.com/unsur-cinta-t74366.html

tiga tingkat cinta.
Pertama, cinta atas dasar harapan mendapat sesuatu. Yaitu ketika seorang yang mencintai kekasihnya karena menginginkan sesuatu dari kekasihnya itu. Dan sesuatu yang diinginkannya itu biasanya berujud materi. Seorang wanita biasanya mudah tergoda dengan materi. Isteri yang mencintai suaminya karena ingin hartanya, berarti dia masuk dalam golongan ini. Isteri yang memijit punggung suaminya hanya ingin jatah nafkahnya ditambah. Isteri yang menyuguhkan teh hangat disertai seulas senyuman hanya karena ingin merayu minta dibelikan anting-anting. Atau isteri yang rajin bersih-bersih rumah dengan niat suami membelikan perabot baru. Semuanya masuk dalam golongan cinta tingkat ini. Cinta seperti ini adalah tingkatan cinta yang paling rendah. Jika keinginannya tidak terpenuhi maka kadar cinta pecinta golongan ini sontak turun tajam. Bahkan kemudian hatinya terisi oleh bibit-bibit kejengkelan, kebencian dan kemarahan. Sehingga bila akumulasi harapan-harapannya yang tak terpenuhi itu sudah sedemikian besar, seringkali berujung pada perselisihan, bahkan perpisahan.
Kedua, cinta atas dasar mengharap ridho kekasih. Cinta seperti ini lebih tinggi tingkatannya dari yang pertama. Yaitu mencintai kekasih karena semata mengharap ridhonya. Orang yang memiliki cinta tingkat kedua ini akan melakukan apapun secara sukarela dengan tujuan agar kekasih mendapatkan kebahagiaan. Agar kekasih memperoleh kesenangan. Agar kekasih terhindar dari marabahaya, dll. Terkadang ada dia berani mengambil resiko besar dalam melakukan hal-hal tersebut. Terkadang dia bersedia melakukan sesuatu yang konyol dan memalukan. Terkadang dia mau melakukan sesuatu yang tidak masuk akal. Bahkan tak jarang ada yang rela melakukan sesuatu yang membahayakan nyawanya sendiri. Dalam melakukan semuanya itu, dia tidak mengharapkan imbalan dari kekasih atas apa yang dilakukannya itu. Yang ada dihatinya hanyalah niat tulus agar kekasihnya senang dan bahagia, itu saja. Dan inilah yang disebut cinta tulus. Dan ketika kekasih tersenyum senang, diapun turut merasakan kesenangan itu. Manakala kekasih bahagaia, hatinyapun turut merasa bahagia.
Ketiga, cinta atas dasar mengharap Ridho Allah sekaligus ridho kekasih. Inilah cinta sejati. Inilah cinta tertinggi. Pada cinta jenis kedua (mengharap ridho kekasih), adakalanya orang tersebut melakukan sesuatu dengan tulus namun apa yang dilakukannya itu tidak diridhoi oleh Allah, Sang Pencipta Cinta. Artinya apa yang dilakukannya itu menyimpang dari aturan-aturan agama. Jika demikian adanya, maka dia dan kekasihnya tidak akan merasakan kebahagiaan sejati. Yang dirasakannya hanyalah kesenangan jangka pendek dan bersifat semu. Misalnya saja waktu sholat maghrib hampir habis dan dia membiarkan kekasihnya asyik menonton TV karena tidak mau mengganggu kesenangannya. Atau dia terus menerus memanjakannya dengan selalu membelikan barang-barang mewah secara mubazir dan berfoya-foya menghamburkan uang untuk menyenangkan kekasihnya (yang tidak punya nilai ibadah). Itu semua bertentangan dengan aturan Allah. Dan orang yang tindakannya bertentangan dengan aturanNya tidak akan menemukan ketentraman hidup dan kebahagiaan sejati. Sebab, yang meniupkan kebahagiaan dan ketenangan hidup kedalam hati manusia hanyalah Allah. Dan kebahagiaan sejati di dunia ini adalah ketika amal perbuatan seseorang itu sejalan dengan PerintahNya (sejalan dengan nurani). Yaitu ketika amal perbuatannya itu memiliki nilai ibadah.
Itulah kenapa cinta tulus saja tidak menjamin kebahagiaan. Yang menjamin kebahagiaan adalah cinta jenis ketiga, yakni cinta tulus mengharap Ridho Allah sekaligus kekasih. Jadi apa yang dilakukan haruslah sesuai dengan jalur pencarian ridhoNya terlebih dulu, baru ridho kekasihnya.

http://www.cintaromantis.com/cintaromantis8.php

Bentuk cinta

3 Macam Bentuk-bentuk Cinta

  1. Eros, asal kata ini adalah dari dewa mitologi Yunani, Eros, yang adalah dewa cinta. Eros adalah cinta manusia semata, yg diinspirasi oleh sesuatu yang menarik dalam objeknya. Eros merupakan cinta yang tumbuh dari seseorang kepada yang lain. Misalkan, Zen suka sama gw karna gw cantik. hehe… misalkan lho, jangan sewot gituw ah. N faktor x lainnya yg berhubungan dengan fisik sehingga menimbulkan gairah sex, seperti dalam Inggrisnya “Erotic”.
  2. Storge – Storge adalah ikatan alami antara ibu dan anak, bapak, anak-anak, dan sodara. William Barclay menyebutkan, “kita tidak bisa tidak mengasihi anak-anak dan sodara kita; darah lebih kental daripada air” (N.T. Words, 1974).
  3. Philia, setingkat lebih tinggi dari eros, berhubungan kejiwa daripada tubuh. Ini adalah cinta antar sahabat. Menyentuh kepribadian manusia—intelektual, emosi, dan kehendak, melibatkan saling berbagi. Cinta yg timbuh dari perhatian dan kebersamaan. Ada sedikit eros dalam philia. Kita memilih teman karena kesenangan yang bisa kita dapatkan dari mereka. Ada kualitas pribadi dalam mereka yang kita hargai, kepintaran dan ketertarikan budaya, dan ekspresi diri yang saling memuaskan.

http://okhacool.wordpress.com/2009/01/17/3-macam-bentuk-bentuk-cinta/

kasih sayang

RAHMAH (Kasih sayang)

Rahmah (رَحْمَةٌ) atau rahmat berasal dari akar kata rahima-yarhamu- rahmah (رَحِمَ ـ يَرْحَمُ ـ رَحْمَةً). Di dalam berbagai bentuknya, kata ini terulang sebanyak 338 kali di dalam Al-quran. Yakni, di dalam bentuk fi‘l mâdhi disebut 8 kali, fi‘l mudhâri‘ 15 kali, dan fi‘l amr5 kali. Selebihnya disebut di dalam bentuk ism dengan berbagai bentuknya. Kata rahmah sendiri disebut sebanyak 145 kali.

Ibnu Faris menyebutkan bahwa kata yang terdiri dari fonem ra, ha, dan mim, pada dasarnya menunjuk kepada arti “kelembutan hati”, “belas kasih”, dan “kehalusan”. Dari akar kata ini lahir kata rahima (رَحِمَ), yang memiliki arti “ikatan darah, persaudaraan, atau hubungan kerabat.” Penamaan rahim pada peranakan perempuan karena darinya terlahir anak yang akan menerima limpahan kasih sayang dan kelembutan hati.

Al-Asfahani menyebutkan bahwa rahmah adalah belas kasih yang menuntut kebaikan kepada yang dirahmati. Kata ini kadang-kadang dipakai dengan arti ar-riqqat al-mujarra­dah (الرَّقَّة اُْلُمَجَّرَدَةُ = belas kasih semata-mata) dan kadang-kadang dipakai dengan arti al-Ihsân al-mujarrad dûn ar-riqqah (الإِحْسَانُ اْلمُجَرَّدُ دُوْنَ الرِّقَّةِ = kebaikan semata-mata tanpa belas kasih). Misalnya, jika katarahmah disandarkan kepada Allah, maka arti yang dimaksud tidak lain adalah “kebaikan semata-mata.” Sebaliknya, jika disandarkan kepada manusia, maka arti yang dimaksud adalah simpati semata. Oleh karena itu, lanjut Al-Asfaha­ni, diriwayatkan bahwa rahmahyang datangnya dari Allah adalah in‘âm ( إِنْعَامٌ = karunia atau anugerah), dan ifdhâl (إِفْضَالُ = kelebihan) dan yang datangnya dari manusia adalah riqqah ( رِقَّةٌ = belas kasih).

Senada dengan Al-Asfahani, Ibnu Manzur di dalam Lisân al-‘Arab menyebutkan bahwa orang Arab membedakan antara kata rahmahyang disandarkan kepada anak cucu Adam dengan yang disandarkan kepada Allah. Kata rahmah yang disandarkan kepada anak cucu Adam adalah riqqat al-qalb wa ‘athfih (رِقَّةُ الْقَلْبِ وَعَطْفِهِ = kelembutan hati dan belas kasihnya), sedangkan kata rahmah yang disandarkan kepada Allah adalah ‘athfuh wa Ihsânuhu wa rizquhu (عَطْفُهُ وَاِحْسَانُهُ وَرِزْقُهُ = belas kasih, kebaikan, dan rezeki-Nya).

Kata rahmah yang digunakan di dalam Alquran hampir semuanya menunjuk kepada Allah Swt, sebagai subyek utama pemberirahmah. Atau dengan kata lain, rahmah di dalam Alquran berbicara tentang berbagai aspek yang berkaitan dengan kasih sayang, kebaikan, dan anugerah rizki Allah terhadap makhluk-Nya. Di samping itu, dari akar kata rahima, lahir beberapa kata yang menjadi nama dan sifat utama Allah Swt. Misalnya, kata ar-râhim (الرَّاحِمُ) yang disebut sebanyak 6 kali, ar-rahmân (الرَّحْمَانُ) yang berwazanfa’lân yang menunjukkan bahwa Dia mencurahkan rahmat yang teramat sempurna tetapi bersifat sementara tidak langgeng kepada semua makhluknya, disebut sebanyak 57 kali, dan ar-rahîm (الرَّحِيْمُ) yang berwazan fa’îl yang menunjukkan bahwa Dia terus-menerus dan secara mantap mencurahkan rahmatya kepada orang-orang yang taat kepada-Nya di akhirat kelak, disebut sebanyak 95 kali, sekali di antaranya disebutkan untuk menyifati pribadi Rasulullah Muhammad Saw.

Dengan demikian, jelas bahwa subyek utama dari pem­beri rahmah yang diungkap Alquran adalah Allah Swt. Dia menyifati diri-Nya dengan kasih dan sayang yang mahaluas (rahmân), mewajibkan bagi diri-Nya sifat rahmah (S. Al-An‘âm [6]: 12). Rahmah-Nya meliputi segala sesuatu (S. Ghâfir [40]: 7). Rahmah-Nya ditaburkan kepada semua makhluk dan tak satu makh­luk pun yang tidak menerima rahmah walau sekejap. Di dalam hadis dinyatakan bahwa Dia lebih pengasih kepada hamba-Nya daripada seorang ibu kepada anaknya (HR. Bukhari). Rahmah-Nya mendahului murka-Nya (HR. Bukhari). Bahkan, musibah ataupun kesusahan yang menimpa seorang hamba pada hakikatnya adalah perwujudan dari rahmat-Nya jua. Bukankah orang tua yang menghukum anaknya yang berbuat kesalahan merupakan bukti kasih sayang orang tua tersebut kepadanya? Dengan demi­kian, rahmah-Nya adalah anugerah dan nikmat Ilahi di dalam seluruh aspek hidup dan kehidupan manusia.

Demikian, banyak sekali ayat Al-quran maupun hadis Nabi Saw. yang berbicara tentang keluasan rahmah Allah. Oleh karena itu, seorang hamba tidak boleh berputus asa akan perolehan rahmah Allah sekalipun hamba tersebut telah berbuat sesuatu yang melampaui batas (S. Az-Zumar [39]: 53). Seseorang yang berputus asa akan perolehan rahmah Allah dicap oleh Alquran sebagai orang yang sesat (S. Al-Hijr [15]: 56). Sementara itu, mereka yang mengingkari ayat-ayat Allah dan pertemuan dengan-Nya juga dicap sebagai orang-orang yang berputus asa akan perolehan rahmah Allah (S. Al-‘Ankabût [29]: 23).

Seiring dengan keluasan rahmah-Nya, Al-quran men­gungkapkan bahwa rahmah Allah diberikan kepada alam secara keseluruhan, termasuk di dalamnya manusia (S. Al-Anbiyâ’ [21]: 107), orang-orang yang beriman (lihat misalnya, S. Al-Nisâ’ [4]: 175, S. Al-A’râf [7]: 52; S. At-Taubah [9]: 61; S. Hûd [11]: 57), orang-orang yang berpegang teguh di dalam keima­nannya (S. An-Nisâ’ [4]: 175), orang-orang yang beramal saleh (S. Al-Jatsiyah [45]: 30), orang-orang yang berbuat kebaikan (S. Luqmân [31]: 3), orang-orang yang berserah diri (S. An-Nahl [19]: 89), serta orang-orang (kaum) yang yakin (S. Al-Jâtsiyah (45): 20).

Rahmah yang diturunkan oleh Allah ke alam semesta secara umum berupa pengutusan para nabi dan rasul (S. Al-Anbiyâ’ [21]: 107) serta kitab petunjuk (S. Luqmân [31]: 3). Rahmah yang diberikan khusus kepada orang-orang yang beriman dan taat kepada-Nya berupa penghindaran dari golongan orang-orang yang merugi (S. Al-Baqarah [2]: 64) peng­hindaran dari azab (lihat misalnya S. Al-A‘râf [7]: 72; S. Hûd [11]: 58, 63, 66, 73, dan 94; serta S. An-Nûr [24]: 14), perlindungan dari godaan setan (S. An-Nisâ’ [4]: 83), penghindaran dari penyesatan oleh golongan orang-orang (kelompok) yang sesat (S. An-Nisâ’ [4]: 113), serta pemberian keistimewaan dan ilmu ladunni yang langsung dari sisi-Nya (S. Al-Kahf [18]: 65).

Para ulama menyimpulkan bahwa rahmah Allah kepada makhluk-Nya terbagi menjadi dua, yakni rahmah umum dan rahmah khusus.Rahmah umum diberikan kepada seluruh makhluk-Nya tanpa kecuali, sedangkan rahmah khusus hanya diberikan kepada makhluk-Nya yang beriman dan taat kepada-Nya. Sementara itu, ulama berpendapat bahwa dengan sifat rah­man-Nya, Allah Swt. memberikan karunia rahmah-Nya secara umum kepada seluruh makhluk-Nya di dunia ini tanpa kecua­li, sedangkan dengan sifat rahim-Nya, AllahSwt. memberikan rahmah-Nya secara khusus kepada orang-orang yang beriman dan taat kepada-Nya di akhirat kelak. Agaknya, pendapat ini disandarkan kepada salah satu prolog doa dari Nabi Saw. yang menyatakan: “Ya rahmân ad-dunyâ wa rahîmu al-âkhirah” (يَارَحْمَنَ الدُّنْيَا وَرَحِيْمُ اْلأَخِرَةِ = Wahai Yang Maha Pengasih di dunia dan Maha Penyayang di akhirat).

Adapun rahîm (رَحِيْمٌ) yang menjadi sifat Rasulullah Saw. disebutkan dalam S. At-Taubah [9]: 128. Di dalam ayat ini, disebutkan empat sifat utama Rasulullah Saw., yaitu sifat ‘azîz (عَزِيْزٌ = empati yang tinggi), Harîsh (حَرِيْصٌ = sangat menginginkan [keselamatan]), raûf (رَؤُوْفٌ = amat belas kasih), dan rahîm (رَحِيْمٌ = amat penyayang). Keempat sifat ini disebutkan dalam kon­teks penegasan Allah Swt. kepada orang-orang Arab Mekah bahwa telah diutus (datang) kepada mereka seorang rasul dari kalangan mereka sendiri (Arab keturunan Bani Hasyim) yang memiliki sifat empati yang tinggi terhadap kesulitan dan penderitaan yang mereka alami, sangat menginginkan keimanan dan keselamatan bagi mereka, dan amat belas kasih lagi amat penyayang kepada orang-orang beriman. Frase raûfun rahîmun (رَؤُوْفٌ رَحِيْمٌ) yang menutup ayat ini ditafsirkan oleh sebagian ahli tafsir dengan: “amat belas kasih kepada orang-orang yang taat, dan amat lembut terhadap orang-orang yang berbuat dosa”. (Salahuddin)

http://www.psq.or.id/ensiklopedia_detail.asp?mnid=34&id=107

kemesraan

Nabi Saw. tidak hanya memberikan teladan terhadap ibadah mahdoh(murni) seperti; shalat, zakat, puasa dan haji. Akan tetapi, nilai-nilai keteladanan meliputi semua aspek kehidupan. Mulai kehidupan pribadi, keluarga, masyarakat bahkan bernegara (pemimpin). Menngingkat pentingnya semua aspek kehidupan Nabi Saw.. Dalam hal ini, penulis ingin menyampaikan bagaimana baginda Nabi Saw. mengatur keluarganya serta menkondisikan keluarganya selalu harmonis, romantis, serta mesra, dan bagaimana mengatasi problematika yang sedang terjadi di dalam keluarga. Nabi sangat cerdas di dalam beriterasksi dengan istri-istrinya dikala suka atau duka, bahkan dibeberapa literatur hadis, Nabi Saw. memberikan contoh bagaimana bermesraan dengan istri-istrinya.

Sebagai orang Arab, yang sejak kelahirnaya memang berkembang pesat sastra dan tata cara Arab. Sudah barang tentu Nabi yang snagat cerdas akalnya, jernih hati dan jiwanya memahami betul bahasa Arab. Orang Arab paling suka mengungkap perasaan suka, duka, cinta dan asmara dengan menggunakan syair. Nabi Saw. menyukai syair-syair yang tidak ghozal (kosro).

Kendati demikian, perkembangan sastra begitu sempurna hingga mencapai puncaknya. Tal satupun bahasa mampu menandingi sastra Arab kala itu. Hingga kemudian di turunkan Al-Quran sebagai wahyu kepada Nabi. Al-Qur’alah yang mampu menandingi kehebatan penyair-penyair Arab Jahiliah kala itu.

Banyak ungkpan-ungkapan mesra nan indah yang di lantunkan lewat sebuah syair pada masa Jahiliah terhadap kekasihnya. Lihat saja seorang syair ketika mengungkap rasa cinta kepada kekasihnya;’’

Cukuplah hati ini menjadi saksi untuk mencintaimu : Karena hati lebih dipercaya untuk menjadi saksi’’

Dalam syair lain, seorang laki-laki mengungkap perasaan hatinya kepada kekasihnya yang bernama Laila;’’

Aku berjalan mengelilingi dinding rumah Laila; Lantas aku menciumi, dan mencium dinding rumahnya;

Yang membuat aku tergila-gila, bukanlah rumhanya tetapi penghuni rumah yang membuatku mabuk kepayang.

Di atas adalah penggalan-penggalan syair oang-orang Arab yang terkait dengan asmara dan cinta. Nabi Saw. faham sekali bagaiamana orang Arab mengungkpkan rasa cinta, asmara, dan mesra kepada kekasuhnya. Memang, pada dasarnya, orang Arab itu sangat romantis, jika memuji kekasih hatinya. Dan wanita adalah kaum yang paling suka dipuja lewat sentuhan bahasa. Wajar sekali jika Nabi mengajari para pengikut setia agar supaya bersikap lembut dan manis kepada istrinya. Nabi sendiri sangat lembut nan mesra kepada istri-istrinya, baik ketika menyapa, memanggil, atau mengaulinya.

Kemesraan Nabi Saw Bersama Aiysah ra

Walaupun usia Rasulullah Saw. sudah senja (lansia), beliau tetap merasakan pentingnya bermesraan dengan istri. Karena Nabi Saw. sangat memahami karakter wanita yang selalu membutuhkan cinta, belaian serta kasih sayang seorang suami. Sehingga beliau pun mempraktekkannya untuk menghiasi hari-harinya dengan penuh kemesraan dengan istri-istrinya. Ini tecermin dalam keterangan hadis-hadis, yang banyak diriwayatkan oleh Aisyah r.a.

Kebanyakan pasangan, jika usia sudah lansia, kadang tidak romantis nan harmonis, apalagi bermesraan seperti waktu muda, atau dikala waktu kemantin baru. Memanggilnya saja, juga tidak lagi seindah dahulu ketika masih baru bertemu. Ini disebabkan karena masing-masing sudah tidak lagi bernafsu, karena umurnya sudah tua renta, organ-organ tubuhnya juga sudah tidak berdaya. Yang dulunya kuat, cerdas, gagah perkasa, namun ketika usia lansia semua menjadi sirna, bahkan hanya menjadi sebuah cerita.

Tetapi, tidak dengan Nabi Saw.. Beliau tetap memelihara cinta serta kasih sayang kepada pasanganya, baik lewat ungkapan, ucapan, serta prilaku sehari-hari. Setiap menjelang tidur, Nabi Saw. selalu sekamar dengan istri-istrinya. Dalam hal ini, sang istri Aisyah r.a menuturkan:

حدثنا أبو الوليد قال حدثنا شعبة عن أبي بكر بن حفص عن عروة عن عائشة قالت كنت أغتسل أنا والنبي صلى الله عليه وسلم من إناء واحد من جنابة: ( رواه البخاري رقم 260 )

Diriwayatkan dari Abu al- Walid, ia mengatakan; telah menceritakan kepadaku: su’bah yang didapatkan dari Abi Bakar bin Hafs, diriwayatkan dari Aisah R.A, beliau mengatakan; Sya waktu itu sedang mandi, saya dan Nabi bersama-sama mengambil air dari satu bejana ketika sedang Jinabat.

Dalam redaksi lain, telah diceritakan pula dari Atha’ bin Yasar: “Sesungguhnya Rasulullah Saw. dan ‘Aisyah ra biasa mandi bersama dalam satu bejana. Ketika beliau sedang berada dalam satu selimut dengan ‘Aisyah, tiba-tiba ‘Aisyah bangkit. Beliau kemudian bertanya, ‘Mengapa engkau bangkit?’ Jawabnya, ‘Karena saya haidh, wahai Rasulullah.’ Sabdanya, ‘Kalau begitu, pergilah, lalu berkainlah dan dekatlah kembali kepadaku.’ Aku pun masuk, lalu berselimut bersama beliau.” (HR Sa’id bin Manshur).

Apa yang diceritakan Aiysah r.a di dalam hadis di atas adalah pelajaran berharga bagi kaum lelaki. Usia boleh bertambah, tetapi kasih sayang dan kemesraan mesti dijaga dengan sebaik-baiknya. Baik di dalam mengungkapan kata-kata, prilaku sehari-hari, bahkan ketika ditempat tidur juga mesti bersama-sama. Bukan untuk memenuhi kebutuhan biologis, tetapi membuktikan cinta sejati yang tidak pernah berubah sepanjang hidupnya, yang berakhir sampai ajal menjeputnya.

https://tarbawi.wordpress.com/2011/01/30/indahnya-kemesraan-nabi-saw/

Pengertian Pemujaan

Pemujaan adalah dimana kita memuja atau mengagungkan sesuatu yang kita senangi.Pemujaan dapat dilakukan dalam berbagai aspek seperti memuja pada leluhur,memuja pada agama tertentu dan kepercayan yang ada. Pada sebagian masyarakat, khususnya masyarakat Timur, kegiatan pemujaan, masih kental dengan nilai-nilai religius, yang bersangkutan dengan pemujaan  berdasarkan kepercayaan. Hal ini juga terdapat pada kebudayaan-kebudayaan masyarakat Afrika dan suku asli Amerika dan Australia.

Dalam Islam telah dijelaskan, bahwa pemujaan hanya berlaku untuk memuja Allah SWT, Tuhan semesta alam. Apabila manusia memuja selain Allah SWT, maka manusia itu termasuk orang Musyrik yang telah melakukan perbuatan syirik. dimana perbuatan syirik adalah dosa yang tak terampuni, dan orang musyrik tempatnya kekal di neraka.

Pengertian Belas Kasih

Antara Eksploitasi dan Kasih Sejati

Rima Fakih, namanya sempat mencuat di beberapa media karena keberhasilannya menjadi pemenang Ratu Kecantikan USA yang pertama dari keturunan Arab, konon kabarnya ia beragama Islam, dalam wawancara dia sendiri mengatakan bahwa di Islam liberal –ini agama jenis baru yang dipopulerkan kaum liberal. Meski banyak yang kontra khususnya kaum muslimin di USA sendiri, tapi banyak juga yang mengelu-elukannya.

Dengan bangganya Rima bertekad memanfaatkan gelar Ratu Kecantikan itu, untuk memperbaiki citra umat Islam di Amerika. Ia ingin semua orang bangga atas dirinya, baik sebagai imigran muslim maupun warga Amerika. Hebat, untuk menghilangkan image teroris ternyata harus berbikini di atas panggung. Na’udzubillah.

Pada tahun 2009 silam, dalam artikel di sebuah situs yang mengkritik keras keikutsertaan putri Indonesia, Zivanna Letisha Siregar dalam ajang Miss Universe 2009, situs ini secara tegas mengkritik kontes tersebut: ”Beginikah kiblat kemajuan sebuah peradaban dimana wanitanya harus berani meludahi ajaran para Nabi, terutama Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wa Sallam? Beginikah simbol sebuah kemajuan peradaban dimana wanitanya akan dihormati manakala berani membuka dada dan paha? Ataukah beginikah standar kecantikan wanita manakala layak tubuhnya dijadikan simbol penglaris dagangan saja?”

Dalam sebuah artikelnya Prof. Daoed Joesoef menulis “Pemilihan ratu-ratuan seperti yang dilakukan sampai sekarang adalah suatu penipuan, disamping pelecehan terhadap hakikat keperempuanan dari makhluk (manusia) perempuan. Tujuan kegiatan ini adalah tak lain dari meraup keuntungan berbisnis, bisnis tertentu; perusahaan kosmetika, pakaian renang, rumah mode, salon kecantikan, dengan mengeksploitasi kecantikan yang sekaligus merupakan kelemahan perempuan, insting primitif dan nafsu elementer laki-laki dan kebutuhan akan uang untuk bisa hidup mewah. Sebagai ekonom aku tidak apriori anti kegiatan bisnis. Adalah normal mencari keuntungan dalam berbisnis, namun bisnis tidak boleh mengenyampingkan begitu saja etika. Janganlah menutup-nutupi target keuntungan bisnis itu dengan dalih muluk-muluk, sampai-sampai mengatasnamakan bangsa dan negara,”.

Bahkan, Daoed Joesoef menyamakan peserta kontes kecantikan itu sama dengan sapi perah: “setelah dibersihkan lalu diukur badannya dan kemudian diperas susunya untuk dijual, tanpa menyadari bahwa dia sebenarnya sudah dimanfaatkan, dijadikan sapi perah. Untuk kepentingan dan keuntungan siapa?”

Hmm, kita memang hidup di akhir zaman, dimana antara yang haq dan bathil sudah terlalu biasa untuk dicampur adukkan, meski perbedaan keduanya amat jelas tapi perasaan dan akal kadang menjadi takaran penentu yang membutakan, tanpa memperhatikan lagi apa yang telah digariskan Allah melalui risalah yang dibawa Rasul-Nya. Atas nama kebebasan wanita kemudian di”ekspolitasi”, namun gayung bersambut dalam keadaan tersebut kebanyakan wanita seperti di atas menara gading “kasih sayang”.

Inilah Kasih Sayang Sejati
Coba kita sedikit tengok ke zaman Rasulullah shallallahu ‘alihi wa sallam, sang panutan. Bagaimana seharusnya memberikan kasih sayang sejati kepada kaum wanita.

Dari Urwah bin Zubair diceritakan bahwa ada seorang wanita mencuri pada zaman Rasulullah di dalam Perang Fatah (Penaklukan Kota Makkah). Lalu kaum (keluarga) wanita tersebut mengadu kepada Usamah bin Zaid seraya memohon syafa’at (pertolongan) kepadanya. Kemudian, lanjut Urwah, ketika Usamah membicarakan hal itu dengan Rasulullah, maka wajah beliau pun berubah. Lalu beliau bertanya, “Apakah engkau berbicara denganku mengenai (dispensasi) dalam hal had (sanksi hukum) yang telah ditetapkan oleh Allah?” Usamah pun berkata, “Mohonkanlah ampunan untukku, ya Rasulullah.” Kemudian pada petang harinya Rasulullah berdiri seraya berkhutbah. Beliau memuji Allah dengan sifat-sifat yang layak bagi-Nya. Lalu beliau bersabda, “Amma ba’du, sesungguhnya yang membinasakan orang-orang sebelum kalian tidak lain adalah karena mereka dahulu apabila orang yang terhormat di antara mereka mencuri, maka mereka membiarkannya. Namun apabila orang yang lemah di antara mereka mencuri, maka mereka melakukan had (sanksi hukum) terhadapnya. Demi Dzat yang jiwa Muhammad berada di Tangan-Nya, andaikata Fatimah binti Muhammad mencuri, niscaya aku akan memotong tangannya.” Kemudian Rasulullah memerintahkan agar wanita itu dipotong tangannya. Setelah itu wanita tersebut bertaubat dengan baik dan menikah. Aisyah mengatakan, “Setelah itu wanita tersebut datang kepadaku, lalu aku pun melaporkan keperluannya kepada Rasulullah .“ (HR. Bukhari)

Ini adalah lembar sejarah yang cemerlang dan sangat langka di dalam sejarah umat manusia pada umumnya. Saya kira kecemerlangan semacam itu tidak akan pernah terulang sampai Hari Kiamat. Sejarah belum pernah dan tidak akan pernah mengenal orang yang lebih hebat belas kasihnya kepada kaum wanita dibandingkan Rasulullah. Beliau berwasiat tentang wanita, memerintahkan untuk memuliakannya, menganjurkan untuk merawatnya, tabah menghadapi tabiatnya, dan memaafkan kekhilafannya.

Kendati rasa belas kasih beliau kepada kaum wanita demikian agung, namun beliau tidak akan pernah melanggar ketentuan hukum yang telah ditetapkan oleh Allah. Bahkan ketika pemberlakuan ketentuan itu akan menimpa seorang wanita muslimah sekalipun.

Ini yang tidak kita jumpai pada diri banyak penguasa, para penanggung jawab maupun para orang tua yang menyerahkan kendali sepenuhnya kepada wanita, dengan dalih belas kasih kepadanya. Akibatnya, mereka tidak mencegah kaum wanita melakukan sesuatu yang melanggar syari’at Allah. Mereka membiarkan kaum wanita keluar rumah dengan pakaian yang tidak menutup aurat, bersolek, bergaul bebas dengan lawan jenis dan melakukan apa saja yang dikehendakinya. Ini sama sekali bukan belas kasih kepada wanita. Karena membiarkan wanita melakukan sesuatu yang bisa mengundang murka dan hukuman dari Allah bukanlah wujud belas kasih kepadanya.

Apakah seorang ibu bisa disebut berbelas kasih kepada putrinya ketika dia membiarkannya bermain korek api? Bukankah dia pasti mencegahnya atau mengambil korek api tersebut dari tangannya, kendati si anak sangat menikmati aktifitas menyalakan korek api tersebut, demi mencegahnya membakar dirinya atau membakar rumah beserta isinya?

Belas kasih yang sejati ialah apa yang diterapkan oleh Rasulullah, yakni syari’at Allah yang agung. Syariat itu berfungsi melindungi keselamatan manusia di dunia dan di akhirat, bahkan ketika ia mencegah mereka memperturutkan hawa nafsu mereka dari menghalangi mereka dari kesenangan-kesenangan yang diharamkan.

Barangkali taubat yang dilakukan oleh wanita dari kabilah Makhzum dengan dipotong tangannya tersebut memberikan peringatan (warning) kepada wanita muslimah masa kini yang merasa keberatan terhadap sesuatu yang jauh lebih ringan daripada harus dipotong tangannya. Yaitu wanita yang keberatan untuk menutup auratnya, keberatan untuk tinggal di rumah, dan keberatan untuk taat kepada suaminya. Peringatan itu menunjukkan bahwa semua itu bisa dilakukan oleh kaum wanita dengan pertolongan Allah. Dan di dalam taubat itulah terkandung jaminan keselamatan dan kemenangannya di dunia dan Akhirat.

Andaikata Sayyidah Fatimah mencuri, niscaya ayahnya yakni Nabi sendiri yang akan memotong tangannya. Apakah pemotongan itu paradoks (bertentangan) dengan rasa belas kasih?! Justru itulah belas kasih yang sejati. Karena adzab di Akhirat teramat pedih dan maha dahsyat, sementara melakukan eksekusi (pemotongan tangan) akan membuatnya selamat dan adzab Akhirat tersebut.

Maka dari itu, tidaklah berbelas kasih ketika seorang ayah membiarkan putrinya atau seorang suami membiarkan istrinya melakukan apa saja sesuka hatinya meski bermaksiat kepada Allah.

Peristiwa pencurian yang dilakukan oleh wanita Makhzumiyah itu terjadi pada waktu penaklukan kota Makkah. Yaitu sebuah momentum yang disambut dengan suka cita oleh seluruh kaum muslimin. Akan tetapi momentum suka cita itu tidak mengabaikan pelaksanaan hukuman (had) yang telah ditetapkan oleh Allah.

Tidak lupa juga kita memberikan perhatian khusus kepada iman yang dimiliki oleh wanita Makhzumiyah tersebut dan taubat yang dilakukannya dengan baik. Dia tidak murtad (keluar) dan agamanya ketika Nabi menolak syafa’at yang diajukan melalui Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhu. Begitu juga ketika hukuman (had) dilakukan terhadap dirinya. Justru dia bensikap pasrah dan bertaubat. Dia bahkan mau datang kepada Sayyidah Aisyah , lalu keperluannya dilaporkan kepada Nabi. Ini adalah bukti nyata yang menunjukkan keseriusan dan kekuatan iman di dalam dirinya.

Hal itu juga akan menjadi persaksian baginya, dan dia -insya Allah- akan menemukan buah dan kepasrahannya itu di Akhirat kelak. Sebab, dunia ini akan berlalu bersama kenangan manis dan pahitnya. Sedangkan Akhirat akan tetap kekal dan abadi. Akhirat jauh lebih baik daripada dunia dengan perbandingan yang tiada tara. Karena nilai dunia jika dibandingkan dengan Akhirat tidak lebih dan air yang menempel di ujung jari ketika dicelupkan ke dalam samudera berbanding dengan seluruh air yang ada di dalamnya. Wallahu a’lam.[]

(Buletin Al-Balagh Edisi 65 Tahun V 1431 Jumadil Tsani)

2 comments

  1. Pingback: rialias
  2. Pingback: Manusia dan Cinta Kasih | rialias

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s