Prinsip Homo Homini Socio dan Homo Homini Lupus serta Pandangan Islam.

Manusia dilahirkan dalam keaadan fitrah, dimana kondisi manusia saat itu adalah suci, bersih dari semua kotoran. Seiring bertambahnya usia, manusia milai mengenali dirinya dan lingkungannya. Manusia itu sendiri pun akhirnya sadar akan kelebihan dan kekurangan yang dia miliki, dan mungkin juga dengan manusia lain yang memiliki kekurangan serupa ataupun kekurangan yang lainnya. Akhirnya, manusia yang diklaim sebagai mahluk paling sempurna didunia, dengan mempunyai akal sehat, budi pekerti dan hati nurani berpikir untuk bisa saling berinteraksi satu sama lain untuk menutupi kekurangan-kekurangan yang dimiliki. Akhirnya manusia itu sadar, bahwa manusia diciptakan untuk saling melengkapi satu sama lain sebagai mahluk sosial (homo homini socio). Dalam hal ini, telah di tegaskan juga oleh Nabi Muhammad S.A.W dalam hadistnya yang berbunyi “siapa yang ingin diluaskan rezekinya dan dipanjangkan umurnya, hendaknya dia menyambung tali silaturrahim. (HR. Bukhari).” Namun, ada saja manusia yang merasa dirinya ataupun kelompoknya mempunyai derajat dan martabat yang lebih tinggi dari yang lainnya dimana manusia atau kelompok tersebut merasa bisa melakukan suatu hal dengan sewenang-wenang terhadap yang lain, dan jika yang lain menghalangi, mereka bisa melakukan apapun agar tidak ada lagi yang menghalanginya, atau bahkan bisa saja mereka menganggap dirinya adalah Tuhan. Hal ini biasa disebut sebagai homo homini lupus, manusia adalah serigala bagi manusia lainnya, sebuah perumpamaan yang tampaknya mengerikan, dimana manusia dianggap sebagai seekor serigala yang buas. Namun pada kenyataannya, ungkapan ini tidak sanggup untuk menggambarkan kebuasan manusia yang buasnya jauh melebihi kebuasan serigala. Walaupun serigala adalah seekor hewan, serigala tidak memangsa serigala lain, tetapi akan berburu rusa, ataupun mangsa lain dengan instingnya, dan serigala pun tidak menutupi cakar dan taringnya, tetapi tetap menampakkannya dengan gagah dan menunjukkan identitasnya sebagai hewan pemangsa. Lain halnya dengan manusia, manusia yang diklaim sebagai mahluk paling sempurna, tega memangsa manusia lain asalkan kebutuhannya terpenuhi. Namun bukan hanya kebutuhan yang menjadi alasan, tetapi bisa saja dengan alasan harga diri, sakit hati, ataupun agama, yang bisa menjadi alasan manusia memangsa manusia yang lainnya, dengan dasar nafsu dan keinginan atau hasrat manusia itu sendiri. Dan semua itu tertutup rapih dengan sebuah senyum manis. Tak usah jauh-jauh melihat, liahatlah bangsa Indonesia sekarang. Banyak manusia yang buasnya jauh melebihi serigala ataupun hewan paling buas di dunia. Lihat saja para koruptor, yang tega mengambil uang yang seharusnya diperuntukkan kepada masyarakat luas, tetapi malah dijadikannya sebagai uang pribadi, yang akhirnya menyengsarakan banyak orang. Begitu juga kerusuhan antar suporter, kerusuhan antar mahasiswa atau pelajar, dan kerusuhan antar suku hingga terorisme yang terjadi berdasarkan harga diri ataupun sakit hati yang bisa saja asal muasal masalah tersebut hanyalah masalah sepele. Dan itulah manusia. Namun dalam ajaran Islam, memang ditegaskan bahwa barang siapa yang telah keluar dari islam maka seseorang tersebut dinyatakan murtad, dan tempatnya di neraka, dan barang siapa yang mengganggu Islam, misalkan membunuh seorang muslimin, maka darahnya halal untuk dibunuh. Memang terdengar mengerikan, tetapi Islam itu damai. Dan Islam tetap mengajarkan toleransi terhadap sesama pemeluk agama dengan pemeluk agama lain. Serta mengajarkan kepedulian terhadap sesama. Hal ini telah ditunjukkan oleh Rasulullah Muhammad S.A.W serta para sahabatnya, dimana ada sebuah kisah, ada seorang nenek yahudi yang buta, yang amat membenci Nabi Muhammad. Nenek tersebut selalu meneriaki dan memaki-maki Rasul. Namun, ada seorang pemuda, yang selalu melewati rumah nenek tersebut dan selalu menyuapi nenek tersebut dengan lembut dan penuh kasih sayang. Dan hanya pemuda itulah yang mau mengasihi dan menyayangi nenek tersebut dengan ikhlas. Pada suatu hari, nenek itu menanyakan nama dari anak muda tersebut, dan pemuda itu menjawab, “akulah Muhammad, yang selama ini kau maki-maki dan kau benci” Mendengar jawaban tersebut, menangislah sang nenek. Ternyata, orang yang selama ini mau menyuapinya dengan lembut dan kasih sayang adalah seseorang yang selalu dimaki-maki dan dibencinya. Adapun kisah lain, dimana sahabat Rasulullah S.A.W, Ali bin Abi Thalib r.a, ketika beliau bertemu dengan seorang kafir Quraisy. Dan kemudian seorang kafir tersebut meludahi wajah dari Ali bin Abi Thalib r.a. sekejap, Ali menghunuskan pedangnya, tapi kemudian Ali menyimpannya kembali, dan tersenyum kepada orang tersebut, dan berkata “semoga ALLAH S.W.T mengampuni dosamu”, hingga akhirnya Ali bin Abi Thalib r.a mendapatkan gelar “Si Wajah Bercahaya”. Sebuah perbuatan yang telah dicontohkan oleh Baginda Nabi Besar Muhammad S.A.W beserta sahabatnya Ali bin Abi Thalib r.a, yang menunjukan bahwa kita sebagai manusia haruslah hidup rukun dan saling mengasihi serta saling menyayangi. Hal ini juga ditegas kan dalam rukun islam ketiga, yakni zakat. Dimana dengan zakat, kita sebagai orang yang diberi kelebihan oleh ALLAH S.W.T dapat membantu saudara-saudara kita yang kekurangan. Tetapi, manusia tetaplah manusia, yang tetap memiliki nafsu dan hasrat yang merupakan jalan bagi syetan untuk mengganggu dan menjerumuskan manusia kejalan yang sesat. Untuk itu, ALLAH S.W.T telah memberikan instruksi kepada manusia berupa shalat, baik itu shalat sunnah ataupun wajib, untuk menghindari dan mencegah manusia berbuat sesuatu yang merupakan perbuatan syetan yang terkutuk. Dan Rasulullah S.A.W pun bersabda “bahwa perang yang paling sulit adalah perang melawan hhawa nafsu”. Maka dari itu, sebagai manusia, janganlah saling bertikai satu sama lain dengan alasan apapun. Jiak ada masalah janganlah diselesaikan dengan kekerasan, tapi diselisaikan dengan akal dan pikiran yang sehat, dengan budi pekerti dan dengan hati nurani. Karena manusia itu diciptakan dalam kondisi sama karena memiliki kekurangan dan kelebihan masing-masing. Dan untuk menutupi kekurangan itu setiap manusia harus saling berinteraksi dengan saling menghargai, menyayangi dan bertoleransi. Yang membedakan manusia hanyalah ketaqwaan manusia kepada ALLAH S.W.T, dan itupun yang mampu mengukurnya hanyalah ALLAH S.W.T sebagai Tuhan semesta alam saja. Dan janganlah merasa lebih baik atau lebih tnggi derajatnya dari orang lain, karena belum tentu derajat kita lebih tinggi dati orang lain, atau belum tentu kita lebih baik dari orang lain. jika pertikaian masih tetap terjadi, sesama manusia saling memusuhi atau bahkan saling membunuh, manusia itu pantas disebut sebagai mahluk yang paling buas diantara mahluk lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s