beras-nasi

Nama : Yan Kumala

NPM : 28110588

1KB01

Nasi, sebuah makanan yang biasa dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia, khususnya Indonesia bagian barat. Nasi dijadikan makanan pokok dikarenakan mengandung karbohidrat yang tinggi. Namun di Indonesia sendiri, nasi dapat digantikan dengan singkong atau tanaman umbi-umbian, dan sagu, dikarenakan memiliki kandungan karbohidrat yang hampir setara dengan nasi. Tapi dari manakah nasi berasal ? dan bagaimanakah cara mengolahnya hingga menjadi sedemikian rupa ?

 

Ketika duduk di sekolah dasar, bapak atau ibu guru selalu menjelaskan bahwa nasi itu berasal dari beras, dan beras itu asalnya dari padi. Jawaban seperti itu tidaklah salah,karena, memang pada intinya nasi itu terbuat dari beras,  tapi jawaban itu kurang tepat. Karena ada proses-proses yang harus dilalui.

Pada mulanya, seorang petani harus menggarap sawahnya, kemudian petani tersebut menanam benih-benih padi. Dan dalam waktu yang cukup lama, petani tersebut harus merawatnya dengan baik, baik itu menjaga padi-padi itu dari serangan hama, menjaga saluran irigasi agar air tetap mengalir ke sawahnya dengan baik, dan lain-lain.

Jika telah tiba saatnya panen, padi dipotong dan di pukul-pukul pada alat pemisah padi, hingga biji beras yang ada didalam padi keluar dari kulit beras, yang biasa disebut ‘gabah’. Setelah itu dimasukkan ke dalam karung, dan siap dijual.

Setelah sampai di konsumen, konsumen tidak serta merta bisa mengkonsumsinya. Konsumen harus membersihkan beras tersebut, dimulai dari memisahkan antara beras dengan kotoran (gabah atau batu) yang berada diantara beras, dan kemudian mencucinya dengan air hingga bersih. Lalu beras dimasak dengan menggunakan air secukupnya pada rice cooker, langseng, atau alat apapun yang dapat dipergunakan untuk memasak nasi. Setelah matang, barulah nasi siap dikonsumsi.

Namun untuk mendapatkan nasi yang berkualitas baik, dibutuhkan juga beras dan padi, serta segala sesuatu yang ada dalam proses pembuatan nasi yang berkualitas baik. Jadi bisa saja jika salah satu unsur dalam proses pembuatan nasi berkualitas buruk atau kurang baik maka akan menghasilkan nasi dengan kualitas buruk atau kurang baik juga.

Dalam mengkonsumsi nasipun, kita tidak akan merasa puas atau merasa tercukupi apabila kita hanya mengkonsumsi hanya sebutir nasi, tapi untuk memenuhinya kita butuh minimal satu piring nasi atau lebih. Bahkan kita juga butuh menambahkan lauk pauk dan sayur mayur untuk kesehatan. Atau jika ingin lebih sehat, bisa ditambahkan dengan mengkonkumsi susu.

Sekarang, jenis makanan berbahan dasar nasi sudah beragam, misalnya nasi putih, nasi kuning (jika dilihat dari warna), nasi goreng, ataupun onigiri (bola nasi khas jepang), dan masih banyak lagi.

Sudah jelas, bila dewasa ini kita masih berpikir bahwa “nasi itu dibuat dari beras”, maka cara berpikir kita sama dengan anak berpendidikan tingkat sekolah dasar. Tapi sudah seharusnya kita berpikir bahwa membuat nasi itu tidak hanya membutuhkan beras, tapi juga dengan bahan lain dan membutuhkan proses.

Terlihat jelas, bahwa menjadikan tanaman padi menjadi nasi itu membutuhkan proses yang cukup panjang dan rumit. Begitu juga dengan hal-hal lain dalam kehidupan ini, bahwasannya untuk mencapai sesuatu yang biasa disebut dengan “cita-cita” itu membutuhkan kerja keras dengan proses yang sangat panjang. Dan juga jangan lupakan do’a atau ibadah, dimana kita hanyalah sebagai manusia yang hanya bisa merencanakan, tapi Allah S.W.T -lah yang menentukan. Misalkan saja dalam menjadikan tanaman padi menjadi beras, kita hanya bisa berusaha sebaik mungkin dengan menggarap sawah, menanami lahan tersebut dengan benih padi, mengatur saluran irigasi, dan menjaga tanaman dari gangguan hama. Tapi tetap saja, kedepannya kita tak tahu apa yang terjadi, belum tentu padi kita panen dengan sempurna atau bahkan gagal panen, mungkin karena faktor alam, dan lain-lain. Maka dari itulah posisi do’a atau ibadah sangat penting.

Begitu juga dengan bangsa Indonesia tercinta ini. Sudah saatnya untuk mendewasakan diri ditengah masalah-masalah yang ada. Sudah saatnya bangsa ini berintrospeksi dan memperbaiki diri, bukan hanya pemerintah, kaum intelektual, atau hanya aparat saja yang harus berbenah diri. Tapi juga seluruh elemen yang ada di bangsa ini. Karena untuk menghasilkan nasi yang baik, dibutuhkan juga beras yang baik dan bahan-bahan lain yang baik, serta proses yang baik pula, maka untuk menghasilkan bangsa yang baik, maka harus dari pemerintah dan masyarakat yang baik juga, serta hukum-hukum yang baik, jujur, jelas dan tegas. Tapi, pemerintah sebagai pemimpin juga harus banyak berperan dalam mewujudkan ini. Karena posisi pemerintah disini adalah sebagai pengatur sekaligus contoh bagi rakyatnya.

Maka dari itu, pemerintah jangan setengah-setengah dalam mencontohkan hal-hal yang baik pada mesayarakat, misalkan dengan menerapkan hukum yang adil, tegas, jujur dan terbuka kepada semua elemen bangsa, termasuk kepada kalangan elit pemerintahan itu sendiri. Dan jangan mencontohkan hal-hal negatif seperti korupsi, kolusi dan nepotisme.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang besar. Bangsa Indonesia juga memiliki cita-cita luhur yang tertuang dalam UUD 1945. Tapi tujuan itu tidak akan terwujud jika bangsa ini hanya mengandalkan peran pemerintah dan kaum intelektual. Seperti saat kita lapar. Karena merasa lapar, maka kita harus makan, dan kita tidak akan merasa puas atau tercukupi apabila kita hanya makan sebutir nasi. Tapi kita akan merasa puas atau tercukupi apabila kita makan nasi sepiring atau bahkan lebih dengan tambahan sayur mayur, lauk pauk dan susu.

Berarti, agar tujuan luhur bangsa Indonesia tercapai, diperlukan sebuah kerjasama yang solid dalam segala bidang dari seluruh masyarakat Indonesia di semua aspek yang ada, baik di dalam agama, politik, dan lain-lain. Dan juga dengan memperhatikan pengaruh dari globalisasi. Dimana dengan globalisasi, pengaruh-pengaruh dari luar dapat masuk kedalam bangsa ini. Jika pengaruh positif, maka harus dimanfaatkan dengan sebaik mungkin, tapi jika pengaruh yang negatif, itu harus di minimalisir dan diusahakan agar tidak bisa masuk kedalam bangsa ini. Untuk itu harus ada proteksi sejak dini yang mumpuni yang didasari dengan iman dan ketaqwaan terhadap Allah S.W.T.

Bangsa Indonesia adalah bangsa yang kaya, baik kekayaan alam maupun budayanya. Namun sayang, walaupun jumlah penduduknya mencapai 200 juta lebih, namun dalam pembinaannya masih banyak kekurangan, sehingga menyebabkan rendahnya kualitas masyarakat Indonesia. Jumlah penduduknya yang banyak menyebabkan bangsa Indonesia tidak mudah dikalahkan dengan kekuatan fisik, seperti perang. Namun kualitas manusia yang rendah dan banyaknya perbedaan yang ada, baik agama, ras, suku, dan lain-lain, menyebabkan bangsa Indonesia mudah dikalahkan dan dicerai beraikan dari dalam.

Maka dari itu, kata-kata “bersatu kita teguh, bercerai kita runtuh” janganlah hanya dijadikan slogan saja, tapi sudah saatnya di aplikasikan. Perhatikan persamaan-persamaan yang ada dan jadikan itu sebagai pemersatu bangsa, yang bisa menutupi perbedaan-perbedaan yang ada, supaya tidak menjadi titik lemah, dan bisa dimanfaatkan bangsa asing untuk memecah belah bangsa Indonesia tercinta ini. Janganlah perbedaan-perbedaan yang ada dijadikan sebagai sumber pertikaian, tapi jadikanlah perbedaan-perbedaan yang ada sebagai kekayaan bangsa, yang harus dijaga, dilestarikan dan dikembangkan. Tingkatkan kebersamaan dalam hidup berbangsa dan bernegara. Karena dengan kebersamaan kita dapat menyatukan segala perbedaan menjadi sebuah kekuatan.

MERDEKA !

JAYA TERUS INDONESIA !

One comment

  1. Pingback: BERAS NASi | Dhikahermawan's Blog

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s